Sabtu, 20 Desember 2014

TERBANG PART 3 END

haihai readers,bertemu lagi dengan Fairy yang selalu cantik ini hehe :D Fairy udah selesai neh ulangan ulangannya :v jadi bebas mau ngapa ngapain sekarang karena HOLIDAY!!, readers mau pergi kemana holiday ini?,yg penting tetep mampir ke sini yah... ^_^ kita mulai aja Cerpen satu ini

TERBANG
by: Eka Satria Wibowo 


Terlihat seorang anak sedang bersandar di sebuah pohon rindang, dan beberapa lainnya bermain bola di sampingnya, cahaya matahari serasa tak menjadi masalah baginya. Anak itu duduk sendiri memandang langit biru. Ya, anak itu adalah
aku.
“Ayah doakan kamu menang.” Yah, itulah yang ayah katakan saat ku akan pergi lomba, dan saat ia masih hidup, dan masih ada di samping ku.
“Eh Nanang kok bengong aja !!” kata seorang anak perempuan dengan wajah putih berkerudung mirip sekali dengan bu Irna, yang bernama Zahra anak dari Pak Mahmud. Tak seperti ayahnya, yang seperti preman dan raut mukanya seperti harimau yang mengerikan, atau mungkin ia mendapatkan sifat dari almarhumah ibunya, ya mungkin saja.
“Kamu enggak ikut Olimpiade Nang ?” Lanjutnya.
“Ah....Olimpiade, kayaknya sih enggak.”
“Bukannya kamu pernah menang Olimpiade Matematika SD tingkat Nasional?”
“Ya.... itukan dulu, sekarang tidak lagi.”
“Hmmm....... Apa mungkin gara gara ayahku yang ngajar ?”
“Ah nggak juga, lagian sekarangkan sudah di ganti.” Tiba-tiba lonceng pun berbunyi, tanda istirahat selesai.
“Ooo..... gitu, udah bell nih, saya masuk kelas dulu ya?”
hanya ku jawab dengan anggukan kecil. Ia pun pergi jauh, makin jauh, dan akhirnya meninggalkanku.
“Anak anak ....!!!! Siapa yang merasa kehilangan buku?” Kata pak Dodi sambil mengangkat buku berwarna hijau.tak ada satu pun yang merespon, Setelah beberapa lama tak ada yang mengangkat tangan, akhirnya akupun mengangkat tangan.
“Nanang, kamu yang memiliki buku ini?” Serentak semua wajah menghadap ke arah ku.
“Ya, benar Pak ! Itu buku saya.”Kataku sambil menurunkan tangan ku, tiba tiba wajah pak Dodi menjadi seperti orang kebingungan.
“Ya sudah, kamu bapak tunggu nanti sore di rumah bapak!”
***
Sederhana,tak besar, juga tak terlalu kecil. Rumah yang bergaya adat Jawa ini membuat ku terkesima, persis seperti pak Dodi, rumah serta barang barang di rumah ini tersusun rapih dan bersih.
“Eh Nanang sudah datang!”Kata pak Dodi yang mengagetkan ku.
“Eh pak Dodi, maaf pak main nyelonong aja masuk ke rumah bapak, oo iya, memang ada apa bapak memanggil saya?”
“Apa benar ini bukumu ?” Sambil menyodorkan buku warna hijau ke hadapan ku.
“Ya pak, itu buku saya.”
“Apa benar kamu yang mengerjakan soal di buku ini ?”
“Ya pak saya .”
“Kamu tahu ini buku apa? Ini buku Olimpiade Matematika tingkat SMA. Sedangkan kamu masih kelas 2 SMP, kamu tidak bohong sama bapak?” Aku hanya nyengir.
“Bapak mau tanya sama kamu, apakah rumus aritmatika berurutan?”
 “Kalau tidak salah,........................................................................”
“Subhanallah ,Nanang Nanang.” Langsung pak Dodi mengangkat kedua tangannya,lalu berdoa sesuatu.
“Bapak sedang doa apa?”Kataku heran dan hanya ia membalasnya dengan senyuman.
“ah tidak,ok sekarang bapak mau tanya beberapa soal pada kamu...............”Ia pun mulai menulis beberapa angka angka rumit dan ku menjawab semua soal yang ia berikan. Ia terus mengucapkan ‘Subhanallah’ dan mengelus rambutku.
***
Matahari mulai turun dari siangnya, langkah ini terhenti oleh ribut anak anak yang menanti orang tuanya di rumah. Gerbang pun penuh dengan murid murid yang pulang dari belajarnya. Hari ini kujalani dengan biasa, tapi hari ini adalah hari luar biasa. Aku telah menemukan anak luar biasa yang tak pernah kuduga. Memang dunia ini tak pernah berhenti berputar. Yang lama menjadi baru, yang dulu menjadi sekarang. Yah, itulah hidup....
“Heh Dodi, kamu sudah menemukan orang untuk Olimpiade besok.” Kata seporang bapak bapak yang tak lain adalah Pak Mahmud.
“Alhamdulillah sudah pak.”
“Hah, sudah! Anak anak bodoh seperti mereka mana mungkin bisa mengerjakan soal Olimpiade.”
“Anak anak bodoh!!! Maaf bapak jangan sembarangan bicara, tidak ada satupun manusia di dunia yang dilahirkan bodoh ,pak.”
“Terserah kau saja!!! Kita lihat saja nanti, anak anak didik mu atau anak didik di SMP baruku yang lebih hebat.”Katanya sombong.
 sambil mengangkat dagu ia pun pergi dari hadapan ku.
“Pak maaf pak.”suara halus datang dari belakang.
“Ya, ada apa bu?”tak salah lagi itu bu Irna.
“Ini pak, buku bapak ada yang tertinggal.”katanya  membawakan buku olimpiade milik Nanang.
 “Oh terima kasih bu, maaf jadi merepotkan ibu saja.”
“Oh tak apa-apa , apakah bapak sudah menemukan calon untuk Olimpiade?”
“Alhamdulillah, Allah telah mengirminnya.”
“Memang siapa?” Belum sempat ku berkata tiba tiba seorang anak muncul diantara kami, yang tidak lain adalah Nanang.
“Eghmm....... Hayo Pak Dodi sama bu irna lagi ngapain, Pak kalau misalkan ada laki laki dengan perempuan berduaan yang ketiganya itu pasti setan pak.”
“Hmmm.......Ya kamu itu setannya.”
“Hehehehehe”kami tertawa bersama.
“bu irna ini lah anaknya, anak yang akan mengikuti limpiade.”
“Nanang....!!!!! Kamu yang ikut Olimpiade???”
***
“Oke,udah ngerti Nang?”
“Sip pak, ngerti semua !!!!”
“Baiklah, kamu sudah siap untuk Olimpiade besok??”
“Insya Allah....SIAP!!!!!”
Waktu terus berjalan, hidup ku terus berangkai. Hari ini adalah pertikaian itu antara ya atau tidak. Dimana telah kutemukan langkah ku tuk maju dari kehampaan. Ketika stomata menangkap cahayanya tuk membentuk impian. Ketika matahari menyapa hari yang menegangkan ini.
“Ibu doakan kamu menang.”
Kata ibu saat kukecup tangannya. Dulu ada ayah di sampingnya saat ibu mengucapkan kata itu, tapi......... walau ia tak ada aku akan buktikkan bahwa aku akan menang. AMIIIINNN......
Terlihat Bowo telah menunggu ku dengan sepeda barunya. Alisnya naik turun memberi syarat keren sepedanya dan kujawab dengan dua jempol OKE.
“Jalan bos, berangkat ...!!!!!”
Gerbang terbuka....... Guru dan teman teman sudah menunggu ku untuk berangkat. Terlihat pak Dodi dan Bu Irna sudah siap dengan sebuah mobil disampingnnya.
“Ayo Nang, nanti kita terlambat!!!”Kata Pak Dodi memanggilku. Akupun pergi ke arahnya, dan tiba tiba datang seorang perempuan yang tidak lain adalah Zahra.
“Ini Nang, titipan dari ibu mu !!”Itu adalah gelang pemberian dari ayahku. Saat aku ingin berangkat Olimpiade SD dulu.
“Nang semoga menang ya !!!!” kujawab dengan senyuman dan anggukan.
***
Jalan berliku, angin pun masuk ke jendela kaca mobil yang terus melaju, kulihat seorang anak kecil yang menangis di marahi ibunya karena menumpahkan secangkir teh panas ibunya. Tiba tiba,’DUKK’ mobil mengerem mendadak.
 “Maaf tadi ada lubang.” Kata pak Dodi yang sedang kebingungan.
“Ya,tidak apa apa.”
Kulihat gelang di tangan ku telah hilang entah di mana. Akupun mencarinya di sela sela jok mobil dan akhirnya “Yah,putus.... !!”
‘KRING KRING’ Suara handphone Pak Dodi berbunyi , ia pun mengangkatnya lalu pererkataan seperti orang kebingungan.. “Apa kecelakaan!!! Ibunya Nanang kecelakan?? Sekarang ada di rumah sakit ??”
.........DEGG.........
 “ ibu, ibu  kecelakaan ??”. ‘Aku bingung tak tahu arah.
“ Ibu,? ibu jangan!!jangan lagi!!, dulu ayah sekarang ibu, cukup cukup”. Pikirku sambil merintikan air mata. Aku pun langsung berlari dari mobil,
“Nang, Nanang mau kemana ?” Pak Dodi memanggilku kebingungan. Langsung bu Irna memberi isyarat kepada Pak Dodi untuk segera mengantarku ke rumah sakit. Ia pun turun dan memegang tangan ku.
“Ayo kita pergi ke rumah sakit!!!”
***
Satu persatu pintu kumasuki. Kucari ada di manakah ibuku. Aku tak ingin lagi kehilangan seseorang yang kucintai. Hingga sampai di pintu terakhir........ “IBU!!!” Kataku sambil berlari ke hadapannya lalu memeluknya. “Ibu, Ibu nggak apa apa kan ??” Kataku dengan penuh rintahan air mata.
“Ya Ibu nggak apa apa kok.” Dengan wajah pucat penuh perban di tubuhnya.
“Bagaimana dengan Olimpiadenya nak ??” Aku hanya terdiam tak menjawabnya.
“Ibu tak apa, jangan sampai semua ini menghalangi mimpimu !!! Kejarlah semua itu !!!”
Kujawab dengan anggukan rintihan tangis. Ku tengok di belakang ku ada pak Dodi dia menganggukan kepala.langsungku berkata..
”Bu, Nanang pergi dulu, !!”. Kataku dengan rintihan air mata.
“Ayo Pak kita pergi.........’MENUJU IMPIAN’.”
***
“Ayo ayo waktunya tinggal setengah jam lagi.”
Bu Irna memanggilku dari depan pintu ujian.”Ya bu “ Jawab ku tergesa gesa. Di tempat lain ada Pak Mahmud menertawaiku dan memaki maki diriku. Dan hanya kubalas dengan senyuman kecil. Akupun memasuki ruangan dan ternyata sebagian perserta telah mengerjakan soalnya masing-masing. Akupun duduk di meja di urutan kedua.
 “Set..set..set.. Waduhhh!!!! Alat tulis ku mana ???”  Ternyata aku meninggalkan alat tulisku di mobil tadi. Tiba tiba disampingku ada seorang anak perempuan berambut panjang dan berkalungkan lambang Kristen di lehernya, ia pun memanggil dan tiba tiba ia meminjamkan alat tulisnya.Lalu ku balas dengan anggukan terima kasih. Akupun langsung membuka soal. Tanganku mulai menulis logika, otak mencerna, dan “HUH.... IMPIAN TUNGGULAH AKU!!!!!”.
***
“Bagaimana tadi Olimpiadenya ??” Kata Pak Dodi yang sedang mengendarai mobil ini.
“Ya....Susah susah gampang ...!!” Angin menghembus dari sela sela kaca, lalu lalang kendaraan terdengar jelas.
“Pengumumannya gimana Bu.??” Tanya ku pada Bu Irna.
“Oh..Nanti akan di siarkan di radio.”
Pandanganku berpindah ke sebuah bangunan sederhana penuh akan kenangan didalamnya. Pintupun terlihat, juga guru dan teman teman ku yang telah berkumpul untuk menyambutku.
“Nanang ,Nanang “ Langsung Bowo yang di depan ku memelukku erat-erat.
“gimana nang olimpiadenya?”
“ akan di siarkan di radio.” Jawab ku yang tiba tiba dari jauh ada salah seorang teman memanggil. “Oooy.... Kesini cepetan !!!” Kata Kokong yang sedang mengotak atik radio tua. Kami pun pergi ke arahnya tanpa suara sama sekali.”...Dengerin!!” lanjutnya. “Ssssrrrkkkksssss....... Pengumuman juara Olimpiade Matematika tingkat propinsi lampung.” Suara radio yang sedikit kurang jelas.
“Juara tiga jatuh kepada .............Muhammad Gizka dari SMPN 3 Trianta .....”
....Deg..deg..deg.... jantungku mulai berdebar.
“Lansung ke juara dua ................Mariam Tessa dari SMPN Kristen..” Yah kataku dengan nada pasrah, hah kalau juara satu nggak mungkin. Aku langsung mundur pergi dengan tundukan kepala dari kumpulan mereka. Kutengok kebelakang mereka masih mendengarkan radio rusak itu.
“Dan ini yang kita tunggu tunggu Juara satu tingkat Nasional tahun 2013 adalah..........................” Ah mereka terlalu bersemangat, lagian mana mungkin aku bisa menang.  Suara radio pun berlanjut....
“Adalaaaaahhh................Nanang Pribadiansyah dari SMPN Bayan Kara....”
“ Hah.... Menang Aku menang ????” bingungku
“Nanang...... ,Nanang.....” Mereka memanggilku denga rasa senang.
 akupun langsung di tarik mereka. Dan akupun di lempar  pada hitungan ketiga. Satu........Dua........Tiiiiiiigaaaa...........  “YEEE MENANG”
***
“Tak, tak, tak...” Suara langkah ku berlari mencari ibuku, aku tak ingin terjadi sesuatu pada ibuku, seperti yang dulu terjadi pada ayahku.
”Ayah...Kini aku telah mencapai mimpi ku, ini adalah aku ayah andai kau tahu jika kau masih ada di sini, aku akan berkata padamu,’Aku telah MENANG Ayah...’
Tap... Suara langkah ku berhenti di depan sebuah pintu terbuka. Terlihat ada ibuku dan seorang laki laki memeluknya sambil menangis. “Siapa dia” Tanya ku. Aku tak memiliki paman atau saudara, ataukah mungkin itu .......................”AYAH”.
Dengan linangan air mata aku berlari kehadapannya. Apakah benar itu Ayah, benarkah Ayah Ayah,Ayah!!!
“Ayah.... “ laki laki itu langsung memelukku dengan penuh linangan air mata.
“Ayah , ayah kemana saja. Kemana ayah pergi .” Kataku sambil menahan tangis.
“Maafkan Ayah Nang.” Katanya sambil menghadapkan wajahnya ke hadapan ku.
“Yah, Nanang menang yah,..Nanang menang !!!”kataku senang bercampur sedih.
 Lalu aku langsung berlari kearah ibuku. “Bu, Nanang menang”  merekapun memelukku erat-erat dengan linangan air mata yang tiba-tiba menjadi nada bahagia. Terlihat di balik pintu, Zahra membawa hadiah sebagai kejutan atas            usahaku, akupun langsung mendekatiknya.
 “Nang, selamat ya, ini untuk kamu, semoga kamu senang.” Senyumnya sambil memberikan bingkisan kepada ku, yang tiba-tiba diantara kami berdua datang seorang laki-laki yang tak salah lagi itu adalah...
” pak Dodi.”
“Hayo, Nanang lagi ngapain ?. Nang kalau misalkan ada laki-laki dengan perempuan berduaan yang ketiganya itu pasti setan Nang”.
“Ya bapak itu setannya”

THE END

nahlo selesaikan?, seru enggak?, dipastikan seru yah :D hehe trimakasih dong buat mas Eka yang udah mbuat cerpen ini :D beri aplus *prokprokprok jangan lupa tinggalkan comment ea :D hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar