haihai readers,bertemu lagi dengan Fairy yang selalu cantik ini hehe :D Fairy udah selesai neh ulangan ulangannya :v jadi bebas mau ngapa ngapain sekarang karena HOLIDAY!!, readers mau pergi kemana holiday ini?,yg penting tetep mampir ke sini yah... ^_^ kita mulai aja Cerpen satu ini
TERBANG
by: Eka Satria Wibowo
Terlihat seorang anak
sedang bersandar di sebuah pohon rindang, dan beberapa lainnya bermain bola di
sampingnya, cahaya matahari serasa tak menjadi masalah baginya. Anak itu duduk
sendiri memandang langit biru. Ya, anak itu adalah
aku.
“Ayah doakan kamu menang.” Yah, itulah yang
ayah katakan saat ku akan pergi lomba, dan saat ia masih hidup, dan masih ada
di samping ku.
“Eh Nanang kok bengong aja !!” kata seorang
anak perempuan dengan wajah putih berkerudung mirip sekali dengan bu Irna, yang
bernama Zahra anak dari Pak Mahmud. Tak seperti ayahnya, yang seperti preman
dan raut mukanya seperti harimau yang mengerikan, atau mungkin ia mendapatkan
sifat dari almarhumah ibunya, ya mungkin saja.
“Kamu enggak ikut Olimpiade Nang ?” Lanjutnya.
“Ah....Olimpiade, kayaknya sih enggak.”
“Bukannya kamu pernah menang Olimpiade
Matematika SD tingkat Nasional?”
“Ya.... itukan dulu, sekarang tidak lagi.”
“Hmmm....... Apa mungkin gara gara ayahku yang
ngajar ?”
“Ah nggak juga, lagian sekarangkan sudah di
ganti.” Tiba-tiba lonceng pun berbunyi, tanda istirahat selesai.
“Ooo..... gitu, udah bell nih, saya masuk
kelas dulu ya?”
hanya ku jawab dengan anggukan kecil. Ia pun
pergi jauh, makin jauh, dan akhirnya meninggalkanku.
“Anak anak ....!!!! Siapa yang merasa
kehilangan buku?” Kata pak Dodi sambil mengangkat buku berwarna hijau.tak ada
satu pun yang merespon, Setelah beberapa lama tak ada yang mengangkat tangan,
akhirnya akupun mengangkat tangan.
“Nanang, kamu yang memiliki buku ini?”
Serentak semua wajah menghadap ke arah ku.
“Ya, benar Pak ! Itu buku saya.”Kataku sambil
menurunkan tangan ku, tiba tiba wajah pak Dodi menjadi seperti orang
kebingungan.
“Ya sudah, kamu bapak tunggu nanti sore di
rumah bapak!”
***
Sederhana,tak besar, juga tak terlalu kecil.
Rumah yang bergaya adat Jawa ini membuat ku terkesima, persis seperti pak Dodi,
rumah serta barang barang di rumah ini tersusun rapih dan bersih.
“Eh Nanang sudah datang!”Kata pak Dodi yang
mengagetkan ku.
“Eh pak Dodi, maaf pak main nyelonong aja
masuk ke rumah bapak, oo iya, memang ada apa bapak memanggil saya?”
“Apa benar ini bukumu ?” Sambil menyodorkan
buku warna hijau ke hadapan ku.
“Ya pak, itu buku saya.”
“Apa benar kamu yang mengerjakan soal di buku
ini ?”
“Ya pak saya .”
“Kamu tahu ini buku apa? Ini buku Olimpiade Matematika tingkat SMA. Sedangkan kamu masih kelas 2 SMP, kamu tidak bohong sama bapak?” Aku hanya nyengir.
“Kamu tahu ini buku apa? Ini buku Olimpiade Matematika tingkat SMA. Sedangkan kamu masih kelas 2 SMP, kamu tidak bohong sama bapak?” Aku hanya nyengir.
“Bapak mau tanya sama kamu, apakah rumus
aritmatika berurutan?”
“Kalau
tidak
salah,........................................................................”
“Subhanallah ,Nanang Nanang.” Langsung pak
Dodi mengangkat kedua tangannya,lalu berdoa sesuatu.
“Bapak sedang doa apa?”Kataku heran dan hanya
ia membalasnya dengan senyuman.
“ah tidak,ok sekarang bapak mau tanya beberapa
soal pada kamu...............”Ia pun mulai menulis beberapa angka angka rumit
dan ku menjawab semua soal yang ia berikan. Ia terus mengucapkan ‘Subhanallah’
dan mengelus rambutku.
***
Matahari mulai turun
dari siangnya, langkah ini terhenti oleh ribut anak anak yang menanti orang
tuanya di rumah. Gerbang pun penuh dengan murid murid yang pulang dari
belajarnya. Hari ini kujalani dengan biasa, tapi hari ini adalah hari luar
biasa. Aku telah menemukan anak luar biasa yang tak pernah kuduga. Memang dunia
ini tak pernah berhenti berputar. Yang lama menjadi baru, yang dulu menjadi
sekarang. Yah, itulah hidup....
“Heh Dodi, kamu sudah menemukan orang untuk
Olimpiade besok.” Kata seporang bapak bapak yang tak lain adalah Pak Mahmud.
“Alhamdulillah sudah pak.”
“Hah, sudah! Anak anak bodoh seperti mereka mana mungkin bisa mengerjakan soal Olimpiade.”
“Hah, sudah! Anak anak bodoh seperti mereka mana mungkin bisa mengerjakan soal Olimpiade.”
“Anak anak bodoh!!! Maaf bapak jangan
sembarangan bicara, tidak ada satupun manusia di dunia yang dilahirkan bodoh
,pak.”
“Terserah kau saja!!! Kita lihat saja nanti,
anak anak didik mu atau anak didik di SMP baruku yang lebih hebat.”Katanya sombong.
sambil
mengangkat dagu ia pun pergi dari hadapan ku.
“Pak maaf pak.”suara halus datang dari
belakang.
“Ya, ada apa bu?”tak salah lagi itu bu Irna.
“Ini pak, buku bapak ada yang tertinggal.”katanya membawakan buku olimpiade milik Nanang.
“Oh
terima kasih bu, maaf jadi merepotkan ibu saja.”
“Oh tak apa-apa , apakah bapak sudah menemukan
calon untuk Olimpiade?”
“Alhamdulillah, Allah telah mengirminnya.”
“Memang siapa?” Belum sempat ku berkata tiba
tiba seorang anak muncul diantara kami, yang tidak lain adalah Nanang.
“Eghmm....... Hayo Pak Dodi sama bu irna lagi
ngapain, Pak kalau misalkan ada laki laki dengan perempuan berduaan yang
ketiganya itu pasti setan pak.”
“Hmmm.......Ya kamu itu setannya.”
“Hehehehehe”kami tertawa bersama.
“bu irna ini lah anaknya, anak yang akan
mengikuti limpiade.”
“Nanang....!!!!! Kamu yang ikut Olimpiade???”
***
“Oke,udah ngerti Nang?”
“Sip pak, ngerti semua !!!!”
“Baiklah, kamu sudah siap untuk Olimpiade
besok??”
“Insya Allah....SIAP!!!!!”
Waktu terus berjalan, hidup ku terus
berangkai. Hari ini adalah pertikaian itu antara ya atau tidak. Dimana telah
kutemukan langkah ku tuk maju dari kehampaan. Ketika stomata menangkap
cahayanya tuk membentuk impian. Ketika matahari menyapa hari yang menegangkan
ini.
“Ibu doakan kamu menang.”
Kata ibu saat kukecup
tangannya. Dulu ada ayah di sampingnya saat ibu mengucapkan kata itu,
tapi......... walau ia tak ada aku akan buktikkan bahwa aku akan menang.
AMIIIINNN......
Terlihat Bowo telah menunggu ku dengan sepeda
barunya. Alisnya naik turun memberi syarat keren sepedanya dan kujawab dengan
dua jempol OKE.
“Jalan bos, berangkat ...!!!!!”
Gerbang terbuka....... Guru dan teman teman
sudah menunggu ku untuk berangkat. Terlihat pak Dodi dan Bu Irna sudah siap
dengan sebuah mobil disampingnnya.
“Ayo Nang, nanti kita terlambat!!!”Kata Pak
Dodi memanggilku. Akupun pergi ke arahnya, dan tiba tiba datang seorang
perempuan yang tidak lain adalah Zahra.
“Ini Nang, titipan dari ibu mu !!”Itu adalah
gelang pemberian dari ayahku. Saat aku ingin berangkat Olimpiade SD dulu.
“Nang semoga menang ya !!!!” kujawab dengan
senyuman dan anggukan.
***
Jalan berliku, angin pun masuk ke jendela kaca
mobil yang terus melaju, kulihat seorang anak kecil yang menangis di marahi
ibunya karena menumpahkan secangkir teh panas ibunya. Tiba tiba,’DUKK’ mobil
mengerem mendadak.
“Maaf
tadi ada lubang.” Kata pak Dodi yang sedang kebingungan.
“Ya,tidak apa apa.”
Kulihat gelang di tangan ku telah hilang entah
di mana. Akupun mencarinya di sela sela jok mobil dan akhirnya “Yah,putus....
!!”
‘KRING KRING’ Suara handphone Pak Dodi berbunyi
, ia pun mengangkatnya lalu pererkataan seperti orang kebingungan.. “Apa
kecelakaan!!! Ibunya Nanang kecelakan?? Sekarang ada di rumah sakit ??”
.........DEGG.........
“ ibu,
ibu kecelakaan ??”. ‘Aku bingung tak
tahu arah.
“ Ibu,? ibu jangan!!jangan lagi!!, dulu ayah sekarang ibu, cukup cukup”. Pikirku
sambil merintikan air mata. Aku pun langsung berlari dari mobil,
“Nang, Nanang mau kemana ?” Pak Dodi
memanggilku kebingungan. Langsung bu Irna memberi isyarat kepada Pak Dodi untuk
segera mengantarku ke rumah sakit. Ia pun turun dan memegang tangan ku.
“Ayo kita pergi ke rumah sakit!!!”
***
Satu persatu pintu
kumasuki. Kucari ada di manakah ibuku. Aku tak ingin lagi kehilangan seseorang
yang kucintai. Hingga sampai di pintu terakhir........ “IBU!!!” Kataku sambil
berlari ke hadapannya lalu memeluknya. “Ibu, Ibu nggak apa apa kan ??” Kataku dengan
penuh rintahan air mata.
“Ya Ibu nggak apa apa kok.” Dengan wajah pucat
penuh perban di tubuhnya.
“Bagaimana dengan Olimpiadenya nak ??” Aku
hanya terdiam tak menjawabnya.
“Ibu tak apa, jangan sampai semua ini
menghalangi mimpimu !!! Kejarlah semua itu !!!”
Kujawab dengan anggukan rintihan tangis. Ku
tengok di belakang ku ada pak Dodi dia menganggukan kepala.langsungku berkata..
”Bu, Nanang pergi dulu, !!”. Kataku dengan
rintihan air mata.
“Ayo Pak kita pergi.........’MENUJU IMPIAN’.”
***
“Ayo ayo waktunya tinggal setengah jam lagi.”
Bu Irna memanggilku dari depan pintu ujian.”Ya bu “ Jawab ku tergesa gesa. Di tempat lain ada Pak Mahmud menertawaiku dan memaki maki diriku. Dan hanya kubalas dengan senyuman kecil. Akupun memasuki ruangan dan ternyata sebagian perserta telah mengerjakan soalnya masing-masing. Akupun duduk di meja di urutan kedua.
Bu Irna memanggilku dari depan pintu ujian.”Ya bu “ Jawab ku tergesa gesa. Di tempat lain ada Pak Mahmud menertawaiku dan memaki maki diriku. Dan hanya kubalas dengan senyuman kecil. Akupun memasuki ruangan dan ternyata sebagian perserta telah mengerjakan soalnya masing-masing. Akupun duduk di meja di urutan kedua.
“Set..set..set.. Waduhhh!!!! Alat tulis ku
mana ???” Ternyata aku meninggalkan alat
tulisku di mobil tadi. Tiba tiba disampingku ada seorang anak perempuan berambut
panjang dan berkalungkan lambang Kristen di lehernya, ia pun memanggil dan tiba
tiba ia meminjamkan alat tulisnya.Lalu ku balas dengan anggukan terima kasih.
Akupun langsung membuka soal. Tanganku mulai menulis logika, otak mencerna, dan
“HUH.... IMPIAN TUNGGULAH AKU!!!!!”.
***
“Bagaimana tadi Olimpiadenya ??” Kata Pak Dodi
yang sedang mengendarai mobil ini.
“Ya....Susah susah gampang ...!!” Angin menghembus dari sela sela kaca, lalu lalang kendaraan terdengar jelas.
“Ya....Susah susah gampang ...!!” Angin menghembus dari sela sela kaca, lalu lalang kendaraan terdengar jelas.
“Pengumumannya gimana Bu.??” Tanya ku pada Bu
Irna.
“Oh..Nanti akan di siarkan di radio.”
“Oh..Nanti akan di siarkan di radio.”
Pandanganku berpindah ke sebuah bangunan
sederhana penuh akan kenangan didalamnya. Pintupun terlihat, juga guru dan
teman teman ku yang telah berkumpul untuk menyambutku.
“Nanang ,Nanang “ Langsung Bowo yang di depan
ku memelukku erat-erat.
“gimana nang olimpiadenya?”
“ akan di siarkan di radio.” Jawab ku yang
tiba tiba dari jauh ada salah seorang teman memanggil. “Oooy.... Kesini cepetan
!!!” Kata Kokong yang sedang mengotak atik radio tua. Kami pun pergi ke arahnya
tanpa suara sama sekali.”...Dengerin!!” lanjutnya. “Ssssrrrkkkksssss.......
Pengumuman juara Olimpiade Matematika tingkat propinsi lampung.” Suara radio
yang sedikit kurang jelas.
“Juara tiga jatuh kepada .............Muhammad
Gizka dari SMPN 3 Trianta .....”
....Deg..deg..deg.... jantungku mulai
berdebar.
“Lansung ke juara dua ................Mariam
Tessa dari SMPN Kristen..” Yah kataku dengan nada pasrah, hah kalau juara satu
nggak mungkin. Aku langsung mundur pergi dengan tundukan kepala dari kumpulan
mereka. Kutengok kebelakang mereka masih mendengarkan radio rusak itu.
“Dan ini yang kita tunggu tunggu Juara satu
tingkat Nasional tahun 2013 adalah..........................” Ah mereka terlalu
bersemangat, lagian mana mungkin aku bisa menang. Suara radio pun berlanjut....
“Adalaaaaahhh................Nanang Pribadiansyah
dari SMPN Bayan Kara....”
“ Hah.... Menang Aku menang ????” bingungku
“Nanang...... ,Nanang.....” Mereka memanggilku
denga rasa senang.
akupun
langsung di tarik mereka. Dan akupun di lempar pada hitungan ketiga.
Satu........Dua........Tiiiiiiigaaaa...........
“YEEE MENANG”
***
“Tak, tak, tak...” Suara langkah ku berlari
mencari ibuku, aku tak ingin terjadi sesuatu pada ibuku, seperti yang dulu terjadi
pada ayahku.
”Ayah...Kini aku telah mencapai mimpi ku, ini
adalah aku ayah andai kau tahu jika kau masih ada di sini, aku akan berkata
padamu,’Aku telah MENANG Ayah...’
Tap... Suara langkah ku berhenti di depan sebuah pintu terbuka. Terlihat ada ibuku dan seorang laki laki memeluknya sambil menangis. “Siapa dia” Tanya ku. Aku tak memiliki paman atau saudara, ataukah mungkin itu .......................”AYAH”.
Dengan linangan air mata aku berlari kehadapannya. Apakah benar itu Ayah, benarkah Ayah Ayah,Ayah!!!
Tap... Suara langkah ku berhenti di depan sebuah pintu terbuka. Terlihat ada ibuku dan seorang laki laki memeluknya sambil menangis. “Siapa dia” Tanya ku. Aku tak memiliki paman atau saudara, ataukah mungkin itu .......................”AYAH”.
Dengan linangan air mata aku berlari kehadapannya. Apakah benar itu Ayah, benarkah Ayah Ayah,Ayah!!!
“Ayah.... “ laki laki itu langsung memelukku
dengan penuh linangan air mata.
“Ayah , ayah kemana saja. Kemana ayah pergi .” Kataku sambil menahan tangis.
“Maafkan Ayah Nang.” Katanya sambil menghadapkan wajahnya ke hadapan ku.
“Yah, Nanang menang yah,..Nanang menang !!!”kataku senang bercampur sedih.
“Ayah , ayah kemana saja. Kemana ayah pergi .” Kataku sambil menahan tangis.
“Maafkan Ayah Nang.” Katanya sambil menghadapkan wajahnya ke hadapan ku.
“Yah, Nanang menang yah,..Nanang menang !!!”kataku senang bercampur sedih.
Lalu
aku langsung berlari kearah ibuku. “Bu, Nanang menang” merekapun memelukku erat-erat dengan linangan
air mata yang tiba-tiba menjadi nada bahagia. Terlihat di balik pintu, Zahra
membawa hadiah sebagai kejutan atas usahaku,
akupun langsung mendekatiknya.
“Nang,
selamat ya, ini untuk kamu, semoga kamu senang.” Senyumnya sambil memberikan
bingkisan kepada ku, yang tiba-tiba diantara kami berdua datang seorang
laki-laki yang tak salah lagi itu adalah...
” pak Dodi.”
“Hayo, Nanang lagi ngapain ?. Nang kalau
misalkan ada laki-laki dengan perempuan berduaan yang ketiganya itu pasti setan
Nang”.
“Ya bapak itu setannya”
THE
END
nahlo selesaikan?, seru enggak?, dipastikan seru yah :D hehe trimakasih dong buat mas Eka yang udah mbuat cerpen ini :D beri aplus *prokprokprok jangan lupa tinggalkan comment ea :D hehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar