assalamualaikum wr wb...
hua...kangen sama readers semua :') apa kabar?,kali ini Fairy bakal ngeshare cerpen yang sebenernya kemaren ngikut lomba di UGM sayangnya engga masuk tuh ke 3 besar :' kasian ya Fairy??
tapi engga papa kok, Fairy sekarang bisa mempublikasikannya lewat blog ini
so enjoy the story ^_^
Hitam
Putih
Karya:Putri
Arifa Ayu Damayanti
Sebuah
lemari kaca yang terlihat baru berdiri gagah di sudut ruangan,lewat kaca yang
transparan sepasang mata menerawang ke bagian dalam lemari itu. Tersusun rapi
barisan piagam piagam serta piala dengan bentuk yang berbeda beda. Sepintas
kenangan terlintas di pikiran pemilik sepasang mata itu. Kenangan yang tidak
bisa di bilang indah tapi
juga tidak bisa di bilang buruk. Semua berawal dari
takdir yang telah disusun Tuhan dengan sedemikian rupa.
“Apakah bumi benar benar berputar?”
pertanyaan itu selalu hadir dalam benak gadis mungil berseragam putih abu abu
yang sekarang sedang memandang langit biru di atasnya. Semua yang ada di
sekitarnya tidak berubah,hanya pemandangan senyap yang mengganggu hidupnya. Tak
ada hal yang bisa dilakukan selain merenungkan betapa tak berwarnanya dunia.
“lo nggak pulang nad?,pembantu ortu
lo udah nunggu tuh di gerbang depan!” Nadia, nama indah yang telah di berikan
untuk gadis mungil itu,tapi sayangnya sampai sekarang dia tak pernah merasakan
indahnya dunia,hidupnya memang sangat berkecukupan,semua fasilitas sudah
memenuhi standar,melebihi malah.
“gue nggak mau pulang,tapi disini
juga bakalan sama!,enggak ada yang berbeda di dunia ini!, apalagi untuk orang nggak
berguna kaya gue!”gumam Nadia di sela hembusan nafasnya. Kaki Nadia mulai
bergerak menandakan akan adanya aktifitas yang sangat menguras tenaga yaitu
berjalan. Senyum gadis ini tak pernah muncul lagi sejak umurnya 5 tahun dengan
alas an yang tak bisa di mengerti, mungkin psikolog pun tak mengerti pemikiran
gadis kecil berumur 5 tahun itu.
“hitam putih” ujarnya mengulang
kejadian beberapa tahun lalu. Dirinya yang tidak bisa melakukan apa apa
melambai lambai di pikirannya. Orang paling tidak berguna di dunia adalah
dirinya.
Pajero sport putih terparkir tertib
di depan gerbang,tampak menunggu kedatangan seseorang yang sudah biasa
terlambat untuk pulang. Seorang laki laki paruh baya langsung membukakan pintu belakang setelah melihat
sosok Nadia berjalan kearahnya. Karena sudah tidak ada siswa di gerbang Nadia
tidak harus meladeni tatapan tatapan aneh yang tertuju padanya seperti kemarin
kemarin.
“ pasti Nona lelah ya?,wajah Nona
berkeringat!”ujar Mardi yang dikenal Nadia sebagai supirnya, Nadia hanya melengos
tak memperdulikan pertanyaan Mardi dan langsung menaiki pajero yang tampak
senang tuan putrinya telah kembali.
Perlahan mata Nadya tertutup,ia tak
mau melihat dunia lagi,kalau dia bodoh saja pasti ia akan dengan senang hati
mengakhiri hidupnya walaupun dengan menjadi pusat perhatian,misalnya lompat
dari tower yang tingginya berpuluh puluh meter sekaligus praktek fisika
mungkin. Tapi sayangnya ia bukan orang bodoh yang seperti itu,ia hanya ingin
menunggu malaikat izroil untuk menjemputnya. Semua pikiran tentang masa depan
sudah terhapus dari otaknya,memikirkan semua itu hanya mengakibatkan pusing di
kepala saja.
“selamat datang Noona!,silahkan masuk”ujar
seorang pelayan dengan baju maid ketika melihat Nadya sudah di depan pintu
rumah yang ia jaga sedari tadi. Nadya melakukan hal yang sama seperti yang ia
lakukan pada Mardi tadi,rumah megahnya tak mengefek dalam kehidupannya,ia
percaya rumah dan harta yang di miliki orang tuanya itu akan cukup untuk 7
keturunan nya lagi. Keturunan?,mungkin hal itu akan terhenti,membayangkan bahwa
Nadya akan jatuh cinta saja rasanya mustahil apalagi mempunyai keturunan,suatu
hal yang tidak mungkin terjadi.
“sudah
pulang sayang?” sapa serang wanita paruh baya yang sedang menonton acara masak
masak di tv. Kali ini Nadya mendekati ibunya lalu mencium punggung tangannya
seraya duduk di sebelahnya.
“Ma…
Nadya berhenti sekolah ya?,Nadya ingin di rumah saja!”pinta Nadya tanpa
ekspresi, sang ibu hanya memandang Nadya lelah,pertanyaan itu selalu keluar
dimanapun dan kapanpun mereka bertemu.
“tapi
kamu butuh sekolah Nadya,kamu kan bisa mendapat teman dan pengetahuan!,sampai
kapanpun Mama dan Papa tidak akan mengizinkan kamu berhenti sekolah!”jawab ibunya
tegas, Nadya sudah menduga jawaban itu yang akan keluar,tapi biarlah suatu saat
nanti juga ia pasti akan berhenti sekolah,sekarang yang harus di lakukan adalah
menjalankannya.
Langkah
getir Nadya pun dimulai,anak tangga yang sudah biasa dengan langkah kaki itu
hanya terdiam,tak memberi satu semangat pun untuk Nadya,hawa jiwa dan raganya
sudah terlalu suram,tak pantas untuk di semangati lagi. Tubuh mungil Nadya
tersaruk hingga jatuh di kasur yang empuk,katanya salju putih itu sangat
menyenangkan,katanya berada di tengah tengah salju adalah hal yang tak akan
pernah bisa dilupakan, tapi apa arti angsa putih di tengah lautan salju putih
itu?,tak terlihat,tak lagi berarti,dan akhirnya pun angsa itu harus menerima
bahwa dirinya tak pantas berada di dunia.
“Gue
benci,gue benci Angsa kaya gue!,kenapa juga gue hidup?,gue nggak bakal berarti
di dunia!” tanya Nadya,tak satupun benda menjawab pertanyaan yang di
ajukan,semua diam hingga Nadya terlelap dalam tidurnya yang tak pernah di
datangi oleh mimpi indah.
♪♪♪
“Nadyaa!!
kenapa kamu tidur?,lihat semua temanmu sedang sibuk mendiskusikan siapa saja
yang akan ikut serta dalam classmeeting minggu depan!”bentak Genta guru yang
paling tidak disukai Nadya serta wali kelas Nadya di kelas XI ini. Nadya
menggeliat dan memandang teman temannya yang memang sedang sibuk,ia menguap
selebear lebarnya.
“pak,kita
belum menemukan yang akan ikut serta lomba cerpen!,semua sudah memiliki cabang
lomba masing masing!” lapor seorang anak yang di kenal Nadya memiliki nama
Ninis. Genta meraba raba janggutnya sambil memasang wajah berfikir.
“Nadya!!,
kamu yang akan mengikuti lomba cerpen!” mendangar namanya disebut Nadya menoleh
ogah ogahan,lalu memberikan tatapan aneh pada Genta yang tak berpengaruh apapun
pada Genta.
“oke!,disini
tertulis paling lambat pengumpulan cerpen adalah lusa,kamu harus menyiapkan
cerpen itu secepat mungkin Nadya!,pokoknya kamu harus menyelesaikannya!,kalau
tidak kamu tau kan konsekuensinya?”ancam Genta pada Nadya,helaan nafas Nadya
terdengar jelas,itulah hal yang paling tidak disukai Nadya dari pria berjanggut
yang berdiri di depan kelas,ia tahu kalu kelemahannya adalah kucing,binatang
yang biasanya disukai karena keimutannya.
“Jadi?!,kamu
akan membuatnya kan Nadya?!”Tanya Genta lagi dengan nada mengancam, dengan
sangat sangat terpaksa Nadya menganggukan kepalanya sekali,malas menanggapi
wali kelasnya itu. Teman temannya menatap Nadya heran,tak biasanya Nadya mau
melakukan suatu hal.
“lo
nggak lagi sakit kan Nad?”
“gue
harap lo masih waras”
“abis
makan apa lo Nad?,ikan asin ya?”pertanyaan pertanyaan terus mendatangi
Nadya,namun seperti biasa ia hanya mengabaikan semua perkataan itu.
Cerpen
mungkin adalah hal mudah baginya,wajar karena setiap hari Nadya hanya berkutat
di depan laptop dengan berbagai judul cerita ,ia rasa hanya menulis yang bisa
ia lakukan di dunia, menyenangkan karena ia tak akan kesulitan dengan huruf
huruf yang tak berbentuk dan tidak jelas.
Walaupun
semangatnya masih dalam keadaan down Nadya tetap menghadap laptopnya,mengetik
kata demi kata yang ada di benaknya,ceritanya mengalir terus menerus,bahasa
yang dipilihnya juga sederhana namun memiliki makna yang dalam.
30
menit berlalu dengan cepat,page Microsoft
World sudah menunjukan angka 8 of 8,
yang berarti persyaratan cerpen itu telah terpenuhi dengan sempurna, Nadya
membaca cerpennya sekali lagi, ia rasa sudah memenuhi syarat sebagai cerpen
yang terburuk dengan mengisahkan seorang gadis berpayung yang kehilangan
sebagian bayangan tubuhnya.
“selesai
pak!,seharusnya bapak tidak boleh mengancam murid bapak sendiri”ucap Nadya
dingin saat menyerahkan Hard copy cerpennya,Genta
hanya tersenyum miris melihat muridnya satu ini yang selalu dingin tanpa
senyum. Nadya meninggalkan Genta sendiri di ruang guru,ia menatap flamboyan yang tumbuh subur di atas
lapangan basket,daunnya rontok tertiup angin atau mungkin karena sudah tua,ia
pun tak mempermasalahkannya.
♪♪♪
Hari
hari Nadya tetap sama dengan sebelumnya,tapi entah kenapa hari ini sepertinya haters Nadya bertambah,semua orang
memperhatikannya dengan tatapan sinis,Nadya memperhatikan dirinya lebih
baik,mungkin karena pakaiannya,atau penampilannya,tapi ia rasa ia tak
berpenampilan aneh.
“
Lo udah mirip jemuran berjalan Nad!, mau cari sensasi ya?!,gue tau hari ini
pake baju bebas!, tapi itu… terlalu norak” seorang teman sekelas Nadya melirik
Nadya sinis,sementara itu yang dilirik paham atas pujian temannya tadi. Nadya
tersenyum lalu menatap langit biru di atasnya.
“siapa
suruh dunia tak berwarna!” gumamnya pelan kelopak matanya tertutup merasakan
angin yang berhembus kencang membalas perkataannya tadi.
Hari
ini pengumuman pemenang class meeting,sebenarnya
Nadya tak terlalu tertarik untuk datang ke sekolah hari ini,tapi Genta
menyuruhnya untuk berangkat karena ada sesuatu yang katanya akan sangat
mengejutkan. Entah bagi dirinya atau entah untuk orang lain,sepanjang hari ia
tak menemukan suatu yang mengejutkan.
“nah,sekarang
saya akan mengumumkan pemenang lomba Cerpen!, wah… ternyata pemenangnya sangat
kita kenal teman teman!, ia cukup terkenal di sekolah ini,pasti kalian tidak
akan menyangka siapa pemenangnya!, kira kira siapa ya?” pembawa acara mencoba
member pertanyaan pada penonton,semua orang dari berbagai pihak menyerukan nama
jagoan nya masing masing.
“Pasti
itu Nadya,diakan terkenal di sekolah ini… terkenal atas keunikannya berpakaian
warna warni,hahaha” celetuk seorang siswa,Nadya menoleh,mulai tertarik dengan
pemenang lomba Cerpen itu, namun seluruh mata sekarang memandangnya aneh.
“HAHAHA!,mana
mungkin!,anak aneh seperti itu bisa menang!”
“iya!!,
mungkin cerpennya hanya berisi beberapa huruf yang bewarna warni tak jelas”
“sssttt!!,
hei tidak boleh seperti itu!,oke saya akan langsung menyebutkannya saja!” ujar
Pembawa acara menenangkan penonton, Nadya masih memasang raut wajah yang biasa
biasa saja,yakin bahwa namanya tak akan di sebut.
“pemenangnya
adalah seorang gadis yang telah menulis cerpen berjudul ‘Gadis Berpayung’
dengan sangat apik dan penuh arti, cerpen ini juga sudah menjadi trending topic
di website sekolah kita. Dan
penulisnya adalah…” semua orang tampak berbisik bisik,menyatakan rasa sukanya
pada cerpen tersebut,berbeda dengan mereka Raut wajah Nadya berubah,keringat
dingin meluap,matanya membelalak,dengan mulut yang sebentar lagi akan menganga.
“Nadya
Yoshi!, kelas X A 1” sekarang mulut Nadya benar benar terbuka,tak percaya apa
yang di ucapkan sang pembawa acara,suasana juga menjadi hening,semua orang
sibuk dengan pikiran masing masing. Pembawa acara bingung dengan keadaan yang
berubah dengan drastic,ia memikirkan sebuah cara untuk mengatasi keheningan
itu.
“berikan
tepuk tangan pada Nadya Yoshi!!, kepada Nadya,di persilahkan untuk naik ke
panggung” ujar Pembawa acara yang di sambut tepuk tangan meriah penonton,
dengan begitu Nadya merasa semuanya hanya mimpi yang tak pantas untuk di
percaya, namun sekali lagi pembawa acara itu mempersilahkan Nadya untuk naik ke
panggung.
Kebahagiaan
datang ketika mereka mengakui bahwa kamu itu berarti, kamu punya arti untuk
hidup di dunia, kamu punya fungsi,untuk apa barang di ciptakan jika tak
mempunyai manfaat yang baik, dan semua itu menyusup ke dalam pemikiran
Nadya,bahwa mungkin ia punya arti,bahwa Tuhan memang berniat menciptakannya.
Euphoria
tadi terpecah karena semua berbalik menyerang Nadya.
“Lo
hebat ya Nad, copas dari siapa?,atau
jangan jangan lo bayar orang buat bikin tuh cerpen?” suara bising itu kembali
meradang,beberapa tusuk pedang menyayat hati rapuh sang putri salju yang bisa
bisanya percaya pada nenek tua yang menawarkan apel beracun,hingga ia jatuh
terkapar di peti kaca.
♪♪♪
Mata
Nadya perlahan terbuka,menyadari ada hal yang mengganjal di kepalanya,terasa
sedikit pening,rupanya ia memang jatuh pingsan tadi. Di pengelihatanya terlihat
dua gadis dan satu laki laki yang memandangnya khawatir, air muka Nadya kembali
dingin bahkan lebih dingin dari biasanya.
“kalian
mau apa?!, menghina gue?,boleh kok,hina aja!” ujar Nadya dib alas senyum hangat
dari mereka.
“kita
nggak mau menghina lo!,kita ingin menawarkan sesuatu buat lo!,sesuatu yang bisa
membuat lo meyakinkan mereka”jawab salah satu gadis dengan jilbab hitam atau
mungkin berwarna.
“KIR!,
Karya Ilmiah Remaja!,lo udah resmi ikut buat mewakili sekolah dalam lomba
cerpen tingkat provinsi” lanjut gadis di sebelahnya yang dikenal Nadya sebagai
pembawa acara tadi. Nadya memicingkan mata tak mau percaya pada semua
orang,apalagi setelah yang telah terjadi tadi.
“Gue
nggak percaya sama kalian!” Nadya membentak
3 orang di pengelihatannya.
“Tapi
kami percaya sama lo!,kami yang akan membantu lo dalam kesulitan apapun” kini
giliran laki laki itu angkat bicara,semua dari mereka tersenyum lembut,membuat
hati Nadya bergetar,nyaris mempercayai ajakan mereka.
“sorry,gue
tetep nggak percaya!”
“besok
kami jemput lo ke kelas,nggak ikut pelajaran nggak papa kan?”
“Tapi
gue nggak ma…”
“sampai
besok ya!,lombanya satu minggu lagi loh!,kami pamit dulu,masih banyak urusan
nih!” mereka bertiga tersenyum lagi lalu melambaikan tangannya dan menghilang
di balik pintu UKS. Nadya tak percaya dengan kekeras kepalaan mereka,sudahlah
yang penting besok ia tak harus memperdulikan mereka.
♪♪♪
Nadya
duduk lesehan bersama tiga orang yang kemarin menjenguknya di UKS,sekarang
mereka berada di perpustakaan dengan beberapa buku yang menumpuk didepan
mereka. Ekspresi Nadya sulit untuk di tebak,sepertinya ia bingung kenapa ia
bisa berada di perpustakaan bersama tiga perusuh ini.
“lo
berat juga ya Nad!,padahal badan lo kecil gitu!” sahut laki laki yang duduk
tepat di samping kanan Nadya,di bet namanya
tertulis ‘Dzakir Al-Faruq’. Dzakir membuat Nadya menyimpulkan hipotesa
sederhana yang bisa di terima dengan manusiawi ‘ia tertidur di kelas’.
“Gue
Dzakir,panggil aja Dzaki,kalo yang pake jilbab putih polos itu Aya,sebelahnya
lagi Firda” ujar Dzaki sambil menunjuk orang
yang di maksud,Nadya diam,tak merespon apapun,atau lebih tepatnya ia tak mau
merespon.
“lo
hemat bicara ya?!,ini tema untuk cerpennya,kami bertiga ikut lct beda sama
lo!,focus aja sama laptop lo!,abaikan aja kami!” Aya berkata sambil tersenyum
ramah,suatu kehangatan yang bahka tak pernah Nadya dapatkan dari seorang teman.
Hati Nadya goyah,merasakan kehangatan itu,tapi mungkin semua ilusi,semua akan
hilang ketika Nadya sudah menyelesaikan cerpennya.
Belakangan
ini Nadya makin sering bersama Aya,Firda,dan Dzaki sesekali terlihat sebuah
senyum di bibir Nadya,ia tak menyangka bahwa ia bisa tersenyum,ia mulai merasa
pangeran sedang dalam perjalanan untuk memulihkannya dari kematian sementara.
“Nadya,bisa
tolong ambilkan buku warna kuning di depanmu?”pinta Firda,Nadya menatap buku
buku berserakan di depannya,tiba tiba Nadya gugup dan mulai gemetar. Ia meraih
satu buku yang ada di depannya secara acak lalu memberikannya pada Firda. Firda
menatap buku yang diberikan oleh Nadya, wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang
dalam kebingungan.
“itu
warna biru Nadya…”ujar Firda,Nadya menatap Firda gerogi sementara itu Firda
menatapnya penuh Tanya. Perasaan sesak hati Nadya membawa tubuhnya pergi dari
situ,ia tak mau menghancurkan semua yang telah ia rasakan saat ini,ia tak mau
semuanya berantakan,ia tak mau sendirian. Lagi.
“Nadya
kenapa?”Tanya Aya yang memperhatikan tingkah laku mereka sejak tadi,begitu juga
Dzaki,Firda menggidikkan bahunya tak tahu menahu. Mereka memutuskan untuk
menemui Nadya,tapi Nadya sudah tak ada lagi di sekitar perpustakaan.
Mata
itu menatap langit biru di atasnya,mata dengan pupil yang berwarna sangat hitam
itu menerawang,menuju masa masanya yang mulai berwarna baru baru ini. Ia pikir
mereka tak perlu mengetahui kebenaran dari sebuah kehidupan yang sudah ia lalui
selama ini, kehidupan gelap tak berwarna.
“lo
kenapa tadi Nad?” suara lembut Aya terdengar di gendang telinga Nadya,mungkin
sang pangeran memang tak berniat untuk membangunkan tuan putri yang
tertidur,mungkin ia hanya ingin menonton pertunjukan gratis seorang Snow White yang terkapar dalam peti kaca
lalu mentertawakannya dan pulang keistana dengan lelucon yang membuat semua
rakyatnya tertawa. Mau tak mau Nadya harus menyatakan kebenaran,walaupun ia
takut semua pelanginya hilang.
“gue…
buta warna!,Monokromasi!”sahut Nadya
sambil terus memandang langit,Aya,Firda,dan Dzaki terdiam,tak menyangka bahwa
ada seorang gadis yang terlalu lemah untuk di kasihani.
“dunia
gue hanya hitam dan putih,bahkan langit itu,yang katanya biru,gue nggak pernah
membayangkan bisa tau warna aslinya apa,di mata gue itu Cuma sebatas warna yang
setiap hari gue liat,dimanapun gue berada,memang gue adalah angsa yang ada di
tengah padang salju di tengah malam, nggak terlihat dan nggak berarti,hidup gue
monoton,warna warna itu Cuma bohong,ilusi yang gue nggak pernah percaya…”
mereka bertiga masih terdiam.
“gue
sadar ketika gue umur 5 tahun,semua temen temen gue bisa menyebutkan semua
warna yang di tunjuk sama guru,tapi gue nggak,nggak tahu serta nggak
bisa,sampai kapanku gue nggak bakal bisa lihat warna daun,laut,bahkan pakaian
gue!”
“jadi
itu alasan lo pakai baju yang warnanya…” Firda memandang Nadya yang hanya dib
alas dengan senyuman beserta anggukan. Sebuah tangan merangkul bahu rapuh
Nadya,pemilik tangan tersenyum lembut.
“lo
nggak akan jadi Angsa dalam lautan salju itu,lo bakalan jadi phonix yang mewarnai langit jingga
dengan keemasannya,tentunya bersama kita!” Nadya menatap Aya,air matanya jatuh
mengalir membasahi pipinya dengan sempurna,tetes kebahagiaan bersama menuju suatu masa depan berwarna, walaupun di
mata Nadya semua tetap hitam dan putih,tapi di hati,tak kan sama.
♪♪♪
Pengumuman
pemenang lomba akan segera di tampilkan melalui proyektor GSG(Gedung Serba Guna),Lct Aya,Firda,dan Dzaki berhasil membawa
piala bergilir seukuran tubuh Dzaki ke sekolah tercinta, sekarang giliran Nadya
yang harus menunggu, hatinya penuh dengan harapan tapi pikirannya penuh dengan
keraguan. Tepukan tangan bergema di seluruh penjuru,menandakan hasilnya telah
keluar, mata Nadya yang tadinya tertutup perlahan terbuka,memberanikan diri
melihat hasil yang tertera.
Harapan
itu pudar,senyuman yang tadi sudah siap muncul terurungkan,tak tertulis disana
nama “SMAN1 Bandar Sribhawono”,kekecewaan memang hadir tapi semua itu hanya
permulaan,mungkin semua ini baru saja di mulai hingga Tuhan baru memberikan
pengalaman,esok pasti ada kesempatan untuk memenangkannya.
Wajah
Aya,Firda,dan Dzaki sudah khawatir namun kekhawatiran itu pudar karena seutas
senyum terpasang manis di wajah Nadya,semua tersenyum lalu memutuskan untuk
keluar dari GSG.
“juri-jurinya
pasti tidak tau apa arti cerpen,masa cerpen lo nggak masuk ke daftar terbaik
sih, padahal gue suka banget sama cerpen lo,dan gaya bahasa yang lo pake”ungkap
Dzaki seraya memasukkan tangannya ke saku celana,Nadya menepuk pundak Dzaki
keras.
“bukan
juri-nya nggak tau arti cerpen tapi nggak bisa baca!”canda Nadya,oh iya,sifat
asli Nadya juga sudah mulai menyeruak memasuki dunianya yang senyap hingga
berubah menjadi ceria,semua orang tertawa.
“AAHH!!,gue
lupa!,tas kecil gue masih di dalam!,kalian ke mobil saja dulu!,nanti aku
menyusul!”sahut Aya yang langsung berlari kedalam,sepertinya di dalam tas itu
ada sejumlah uang hasil kemenangan mereka tadi.
♪♪♪
Aya
tampak berlari terburu buru menuju mobil, candaan yang sedang di ajukan Dzaki
terhenti karena malihat wajah Aya yang sudah dipenuhi air mata.
“Lo
kenapa?”Tanya Firda sama khawatirnya.
“Nadya
lo harus ikut gue!, kalian juga!” Aya menarik tangan Nadya sigap lalu
membawanya berlari, Firda dan Dzaki yang tak tahu menahu hanya ikut berlari di
belakangnya,mereka kembali berlari memasuki GSG. Aya menunjuk kea rah lcd semua mata mengikuti arah yang di
tunjuk oleh Aya. Disana tertulis “SELAMAT KEPADA JUARA 1 NADYA YOSHI DARI SMAN1
BANDAR SRIBHAWONO!”
Mulut
Nadya menganga,setitik air mata jatuh dari pelupuknya,semua teman temannya
memeluk Nadya senang,masih tak percaya dengan keajaiban ini Nadya bertanya
“tadi
tidak ada nama sekolah kita… kenapa sekarang ada?”
“keajaiban
yang di buat oleh Tuhan untuk lo Nad,Tuhan mau nunjukin kalo memang lo pantes
hidup di dunia ini,karena lo punya arti!jadi semua pertanyaan lo selama ini
udah terjawab, lo memang di captain untuk berguna bagi orang lain dan diri
sendiri!,tadi operator salah menulis sekolah kita”jelas Aya.
“Senyuman tulus itu hadir
lagi,benar benar membawaku ke suatu tempat yang indah dengan berbagai warna
yang dulu tak pernah bisa kulihat,bahkan aku bisa merasakan betapa hangatnya
semua warna itu,walau duniaku masih tetap hitam dan putih tapi hati dan
perasaanku tak akan sama, perasaan selalu berwarna warni,tak bisa dijelaskan
memang,tapi aku percaya bahwa dunia itu warna warni tak hanya hitam dan putih
seperti apa yang aku lihat”
Gadis itu tersenyum setelah mengingat semua
perjalanan sulitnya dulu,sekarang mungkin ia sudah bisa di sebut sang phonix yang sudah menjuarai lomba
tingkat nasional sampai internasional dengan menulis.
“NADYA!!”panggil
seorang gadis bersama dua teman lainnya.
“Gue
disini” jawab Nadya mengalihkan pandangan dari lemari kepada ketiga temannya.
END
gimana gimana?? are you bored?? ah i hope its not boring :)
thanks and dont forget your comment ^_^
wassalamualaikum wr.wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar