Selasa, 10 Maret 2015

HITAM PUTIH

assalamualaikum wr wb...
hua...kangen sama readers semua :') apa kabar?,kali ini Fairy bakal ngeshare cerpen yang sebenernya kemaren ngikut lomba di UGM sayangnya engga masuk tuh ke 3 besar :' kasian ya Fairy?? 
tapi engga papa kok, Fairy sekarang bisa mempublikasikannya lewat blog ini
so enjoy the story ^_^

Hitam Putih
Karya:Putri Arifa Ayu Damayanti

Sebuah lemari kaca yang terlihat baru berdiri gagah di sudut ruangan,lewat kaca yang transparan sepasang mata menerawang ke bagian dalam lemari itu. Tersusun rapi barisan piagam piagam serta piala dengan bentuk yang berbeda beda. Sepintas kenangan terlintas di pikiran pemilik sepasang mata itu. Kenangan yang tidak bisa di bilang indah tapi
juga tidak bisa di bilang buruk. Semua berawal dari takdir yang telah disusun Tuhan dengan sedemikian rupa.
            “Apakah bumi benar benar berputar?” pertanyaan itu selalu hadir dalam benak gadis mungil berseragam putih abu abu yang sekarang sedang memandang langit biru di atasnya. Semua yang ada di sekitarnya tidak berubah,hanya pemandangan senyap yang mengganggu hidupnya. Tak ada hal yang bisa dilakukan selain merenungkan betapa tak berwarnanya dunia.
            “lo nggak pulang nad?,pembantu ortu lo udah nunggu tuh di gerbang depan!” Nadia, nama indah yang telah di berikan untuk gadis mungil itu,tapi sayangnya sampai sekarang dia tak pernah merasakan indahnya dunia,hidupnya memang sangat berkecukupan,semua fasilitas sudah memenuhi standar,melebihi malah.
            “gue nggak mau pulang,tapi disini juga bakalan sama!,enggak ada yang berbeda di dunia ini!, apalagi untuk orang nggak berguna kaya gue!”gumam Nadia di sela hembusan nafasnya. Kaki Nadia mulai bergerak menandakan akan adanya aktifitas yang sangat menguras tenaga yaitu berjalan. Senyum gadis ini tak pernah muncul lagi sejak umurnya 5 tahun dengan alas an yang tak bisa di mengerti, mungkin psikolog pun tak mengerti pemikiran gadis kecil berumur 5 tahun itu.
            “hitam putih” ujarnya mengulang kejadian beberapa tahun lalu. Dirinya yang tidak bisa melakukan apa apa melambai lambai di pikirannya. Orang paling tidak berguna di dunia adalah dirinya.
            Pajero sport putih terparkir tertib di depan gerbang,tampak menunggu kedatangan seseorang yang sudah biasa terlambat untuk pulang. Seorang laki laki paruh baya langsung  membukakan pintu belakang setelah melihat sosok Nadia berjalan kearahnya. Karena sudah tidak ada siswa di gerbang Nadia tidak harus meladeni tatapan tatapan aneh yang tertuju padanya seperti kemarin kemarin.
            “ pasti Nona lelah ya?,wajah Nona berkeringat!”ujar Mardi yang dikenal Nadia sebagai supirnya, Nadia hanya melengos tak memperdulikan pertanyaan Mardi dan langsung menaiki pajero yang tampak senang tuan putrinya telah kembali.
            Perlahan mata Nadya tertutup,ia tak mau melihat dunia lagi,kalau dia bodoh saja pasti ia akan dengan senang hati mengakhiri hidupnya walaupun dengan menjadi pusat perhatian,misalnya lompat dari tower yang tingginya berpuluh puluh meter sekaligus praktek fisika mungkin. Tapi sayangnya ia bukan orang bodoh yang seperti itu,ia hanya ingin menunggu malaikat izroil untuk menjemputnya. Semua pikiran tentang masa depan sudah terhapus dari otaknya,memikirkan semua itu hanya mengakibatkan pusing di kepala saja.
            “selamat datang Noona!,silahkan masuk”ujar seorang pelayan dengan baju maid ketika melihat Nadya sudah di depan pintu rumah yang ia jaga sedari tadi. Nadya melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Mardi tadi,rumah megahnya tak mengefek dalam kehidupannya,ia percaya rumah dan harta yang di miliki orang tuanya itu akan cukup untuk 7 keturunan nya lagi. Keturunan?,mungkin hal itu akan terhenti,membayangkan bahwa Nadya akan jatuh cinta saja rasanya mustahil apalagi mempunyai keturunan,suatu hal yang tidak mungkin terjadi.
“sudah pulang sayang?” sapa serang wanita paruh baya yang sedang menonton acara masak masak di tv. Kali ini Nadya mendekati ibunya lalu mencium punggung tangannya seraya duduk di sebelahnya.
“Ma… Nadya berhenti sekolah ya?,Nadya ingin di rumah saja!”pinta Nadya tanpa ekspresi, sang ibu hanya memandang Nadya lelah,pertanyaan itu selalu keluar dimanapun dan kapanpun mereka bertemu.
“tapi kamu butuh sekolah Nadya,kamu kan bisa mendapat teman dan pengetahuan!,sampai kapanpun Mama dan Papa tidak akan mengizinkan kamu berhenti sekolah!”jawab ibunya tegas, Nadya sudah menduga jawaban itu yang akan keluar,tapi biarlah suatu saat nanti juga ia pasti akan berhenti sekolah,sekarang yang harus di lakukan adalah menjalankannya.
Langkah getir Nadya pun dimulai,anak tangga yang sudah biasa dengan langkah kaki itu hanya terdiam,tak memberi satu semangat pun untuk Nadya,hawa jiwa dan raganya sudah terlalu suram,tak pantas untuk di semangati lagi. Tubuh mungil Nadya tersaruk hingga jatuh di kasur yang empuk,katanya salju putih itu sangat menyenangkan,katanya berada di tengah tengah salju adalah hal yang tak akan pernah bisa dilupakan, tapi apa arti angsa putih di tengah lautan salju putih itu?,tak terlihat,tak lagi berarti,dan akhirnya pun angsa itu harus menerima bahwa dirinya tak pantas berada di dunia.
“Gue benci,gue benci Angsa kaya gue!,kenapa juga gue hidup?,gue nggak bakal berarti di dunia!” tanya Nadya,tak satupun benda menjawab pertanyaan yang di ajukan,semua diam hingga Nadya terlelap dalam tidurnya yang tak pernah di datangi oleh mimpi indah.
♪♪♪
“Nadyaa!! kenapa kamu tidur?,lihat semua temanmu sedang sibuk mendiskusikan siapa saja yang akan ikut serta dalam classmeeting minggu depan!”bentak Genta guru yang paling tidak disukai Nadya serta wali kelas Nadya di kelas XI ini. Nadya menggeliat dan memandang teman temannya yang memang sedang sibuk,ia menguap selebear lebarnya.
“pak,kita belum menemukan yang akan ikut serta lomba cerpen!,semua sudah memiliki cabang lomba masing masing!” lapor seorang anak yang di kenal Nadya memiliki nama Ninis. Genta meraba raba janggutnya sambil memasang wajah berfikir.
“Nadya!!, kamu yang akan mengikuti lomba cerpen!” mendangar namanya disebut Nadya menoleh ogah ogahan,lalu memberikan tatapan aneh pada Genta yang tak berpengaruh apapun pada Genta.
“oke!,disini tertulis paling lambat pengumpulan cerpen adalah lusa,kamu harus menyiapkan cerpen itu secepat mungkin Nadya!,pokoknya kamu harus menyelesaikannya!,kalau tidak kamu tau kan konsekuensinya?”ancam Genta pada Nadya,helaan nafas Nadya terdengar jelas,itulah hal yang paling tidak disukai Nadya dari pria berjanggut yang berdiri di depan kelas,ia tahu kalu kelemahannya adalah kucing,binatang yang biasanya disukai karena keimutannya.
“Jadi?!,kamu akan membuatnya kan Nadya?!”Tanya Genta lagi dengan nada mengancam, dengan sangat sangat terpaksa Nadya menganggukan kepalanya sekali,malas menanggapi wali kelasnya itu. Teman temannya menatap Nadya heran,tak biasanya Nadya mau melakukan suatu hal.
“lo nggak lagi sakit kan Nad?”
“gue harap lo masih waras”
“abis makan apa lo Nad?,ikan asin ya?”pertanyaan pertanyaan terus mendatangi Nadya,namun seperti biasa ia hanya mengabaikan semua perkataan itu.
Cerpen mungkin adalah hal mudah baginya,wajar karena setiap hari Nadya hanya berkutat di depan laptop dengan berbagai judul cerita ,ia rasa hanya menulis yang bisa ia lakukan di dunia, menyenangkan karena ia tak akan kesulitan dengan huruf huruf yang tak berbentuk dan tidak jelas.
Walaupun semangatnya masih dalam keadaan down Nadya tetap menghadap laptopnya,mengetik kata demi kata yang ada di benaknya,ceritanya mengalir terus menerus,bahasa yang dipilihnya juga sederhana namun memiliki makna yang dalam.
30 menit berlalu dengan cepat,page Microsoft World sudah menunjukan angka 8 of 8, yang berarti persyaratan cerpen itu telah terpenuhi dengan sempurna, Nadya membaca cerpennya sekali lagi, ia rasa sudah memenuhi syarat sebagai cerpen yang terburuk dengan mengisahkan seorang gadis berpayung yang kehilangan sebagian bayangan tubuhnya.
“selesai pak!,seharusnya bapak tidak boleh mengancam murid bapak sendiri”ucap Nadya dingin saat menyerahkan Hard copy cerpennya,Genta hanya tersenyum miris melihat muridnya satu ini yang selalu dingin tanpa senyum. Nadya meninggalkan Genta sendiri di ruang guru,ia menatap flamboyan yang tumbuh subur di atas lapangan basket,daunnya rontok tertiup angin atau mungkin karena sudah tua,ia pun tak mempermasalahkannya.
♪♪♪
Hari hari Nadya tetap sama dengan sebelumnya,tapi entah kenapa hari ini sepertinya haters Nadya bertambah,semua orang memperhatikannya dengan tatapan sinis,Nadya memperhatikan dirinya lebih baik,mungkin karena pakaiannya,atau penampilannya,tapi ia rasa ia tak berpenampilan aneh.
“ Lo udah mirip jemuran berjalan Nad!, mau cari sensasi ya?!,gue tau hari ini pake baju bebas!, tapi itu… terlalu norak” seorang teman sekelas Nadya melirik Nadya sinis,sementara itu yang dilirik paham atas pujian temannya tadi. Nadya tersenyum lalu menatap langit biru di atasnya.
“siapa suruh dunia tak berwarna!” gumamnya pelan kelopak matanya tertutup merasakan angin yang berhembus kencang membalas perkataannya tadi.
Hari ini pengumuman pemenang class meeting,sebenarnya Nadya tak terlalu tertarik untuk datang ke sekolah hari ini,tapi Genta menyuruhnya untuk berangkat karena ada sesuatu yang katanya akan sangat mengejutkan. Entah bagi dirinya atau entah untuk orang lain,sepanjang hari ia tak menemukan suatu yang mengejutkan.
“nah,sekarang saya akan mengumumkan pemenang lomba Cerpen!, wah… ternyata pemenangnya sangat kita kenal teman teman!, ia cukup terkenal di sekolah ini,pasti kalian tidak akan menyangka siapa pemenangnya!, kira kira siapa ya?” pembawa acara mencoba member pertanyaan pada penonton,semua orang dari berbagai pihak menyerukan nama jagoan nya masing masing.
“Pasti itu Nadya,diakan terkenal di sekolah ini… terkenal atas keunikannya berpakaian warna warni,hahaha” celetuk seorang siswa,Nadya menoleh,mulai tertarik dengan pemenang lomba Cerpen itu, namun seluruh mata sekarang memandangnya aneh.
“HAHAHA!,mana mungkin!,anak aneh seperti itu bisa menang!”
“iya!!, mungkin cerpennya hanya berisi beberapa huruf yang bewarna warni tak jelas”
“sssttt!!, hei tidak boleh seperti itu!,oke saya akan langsung menyebutkannya saja!” ujar Pembawa acara menenangkan penonton, Nadya masih memasang raut wajah yang biasa biasa saja,yakin bahwa namanya tak akan di sebut.
“pemenangnya adalah seorang gadis yang telah menulis cerpen berjudul ‘Gadis Berpayung’ dengan sangat apik dan penuh arti, cerpen ini juga sudah menjadi trending topic di website sekolah kita. Dan penulisnya adalah…” semua orang tampak berbisik bisik,menyatakan rasa sukanya pada cerpen tersebut,berbeda dengan mereka Raut wajah Nadya berubah,keringat dingin meluap,matanya membelalak,dengan mulut yang sebentar lagi akan menganga.
“Nadya Yoshi!, kelas X A 1” sekarang mulut Nadya benar benar terbuka,tak percaya apa yang di ucapkan sang pembawa acara,suasana juga menjadi hening,semua orang sibuk dengan pikiran masing masing. Pembawa acara bingung dengan keadaan yang berubah dengan drastic,ia memikirkan sebuah cara untuk mengatasi keheningan itu.
“berikan tepuk tangan pada Nadya Yoshi!!, kepada Nadya,di persilahkan untuk naik ke panggung” ujar Pembawa acara yang di sambut tepuk tangan meriah penonton, dengan begitu Nadya merasa semuanya hanya mimpi yang tak pantas untuk di percaya, namun sekali lagi pembawa acara itu mempersilahkan Nadya untuk naik ke panggung.
Kebahagiaan datang ketika mereka mengakui bahwa kamu itu berarti, kamu punya arti untuk hidup di dunia, kamu punya fungsi,untuk apa barang di ciptakan jika tak mempunyai manfaat yang baik, dan semua itu menyusup ke dalam pemikiran Nadya,bahwa mungkin ia punya arti,bahwa Tuhan memang berniat menciptakannya.
Euphoria tadi terpecah karena semua berbalik menyerang Nadya.
“Lo hebat ya Nad, copas dari siapa?,atau jangan jangan lo bayar orang buat bikin tuh cerpen?” suara bising itu kembali meradang,beberapa tusuk pedang menyayat hati rapuh sang putri salju yang bisa bisanya percaya pada nenek tua yang menawarkan apel beracun,hingga ia jatuh terkapar di peti kaca.
♪♪♪
Mata Nadya perlahan terbuka,menyadari ada hal yang mengganjal di kepalanya,terasa sedikit pening,rupanya ia memang jatuh pingsan tadi. Di pengelihatanya terlihat dua gadis dan satu laki laki yang memandangnya khawatir, air muka Nadya kembali dingin bahkan lebih dingin dari biasanya.
“kalian mau apa?!, menghina gue?,boleh kok,hina aja!” ujar Nadya dib alas senyum hangat dari mereka.
“kita nggak mau menghina lo!,kita ingin menawarkan sesuatu buat lo!,sesuatu yang bisa membuat lo meyakinkan mereka”jawab salah satu gadis dengan jilbab hitam atau mungkin berwarna.
“KIR!, Karya Ilmiah Remaja!,lo udah resmi ikut buat mewakili sekolah dalam lomba cerpen tingkat provinsi” lanjut gadis di sebelahnya yang dikenal Nadya sebagai pembawa acara tadi. Nadya memicingkan mata tak mau percaya pada semua orang,apalagi setelah yang telah terjadi tadi.
“Gue nggak percaya sama kalian!” Nadya membentak  3 orang di pengelihatannya.
“Tapi kami percaya sama lo!,kami yang akan membantu lo dalam kesulitan apapun” kini giliran laki laki itu angkat bicara,semua dari mereka tersenyum lembut,membuat hati Nadya bergetar,nyaris mempercayai ajakan mereka.
“sorry,gue tetep nggak percaya!”
“besok kami jemput lo ke kelas,nggak ikut pelajaran nggak papa kan?”
“Tapi gue nggak ma…”
“sampai besok ya!,lombanya satu minggu lagi loh!,kami pamit dulu,masih banyak urusan nih!” mereka bertiga tersenyum lagi lalu melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu UKS. Nadya tak percaya dengan kekeras kepalaan mereka,sudahlah yang penting besok ia tak harus memperdulikan mereka.
♪♪♪
Nadya duduk lesehan bersama tiga orang yang kemarin menjenguknya di UKS,sekarang mereka berada di perpustakaan dengan beberapa buku yang menumpuk didepan mereka. Ekspresi Nadya sulit untuk di tebak,sepertinya ia bingung kenapa ia bisa berada di perpustakaan bersama tiga perusuh ini.
“lo berat juga ya Nad!,padahal badan lo kecil gitu!” sahut laki laki yang duduk tepat di samping kanan Nadya,di bet namanya tertulis ‘Dzakir Al-Faruq’. Dzakir membuat Nadya menyimpulkan hipotesa sederhana yang bisa di terima dengan manusiawi ‘ia tertidur di kelas’.
“Gue Dzakir,panggil aja Dzaki,kalo yang pake jilbab putih polos itu Aya,sebelahnya lagi Firda”  ujar Dzaki sambil menunjuk orang yang di maksud,Nadya diam,tak merespon apapun,atau lebih tepatnya ia tak mau merespon.
“lo hemat bicara ya?!,ini tema untuk cerpennya,kami bertiga ikut lct beda sama lo!,focus aja sama laptop lo!,abaikan aja kami!” Aya berkata sambil tersenyum ramah,suatu kehangatan yang bahka tak pernah Nadya dapatkan dari seorang teman. Hati Nadya goyah,merasakan kehangatan itu,tapi mungkin semua ilusi,semua akan hilang ketika Nadya sudah menyelesaikan cerpennya.
Belakangan ini Nadya makin sering bersama Aya,Firda,dan Dzaki sesekali terlihat sebuah senyum di bibir Nadya,ia tak menyangka bahwa ia bisa tersenyum,ia mulai merasa pangeran sedang dalam perjalanan untuk memulihkannya dari kematian sementara.
“Nadya,bisa tolong ambilkan buku warna kuning di depanmu?”pinta Firda,Nadya menatap buku buku berserakan di depannya,tiba tiba Nadya gugup dan mulai gemetar. Ia meraih satu buku yang ada di depannya secara acak lalu memberikannya pada Firda. Firda menatap buku yang diberikan oleh Nadya, wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang dalam kebingungan.
“itu warna biru Nadya…”ujar Firda,Nadya menatap Firda gerogi sementara itu Firda menatapnya penuh Tanya. Perasaan sesak hati Nadya membawa tubuhnya pergi dari situ,ia tak mau menghancurkan semua yang telah ia rasakan saat ini,ia tak mau semuanya berantakan,ia tak mau sendirian. Lagi.
“Nadya kenapa?”Tanya Aya yang memperhatikan tingkah laku mereka sejak tadi,begitu juga Dzaki,Firda menggidikkan bahunya tak tahu menahu. Mereka memutuskan untuk menemui Nadya,tapi Nadya sudah tak ada lagi di sekitar perpustakaan.
Mata itu menatap langit biru di atasnya,mata dengan pupil yang berwarna sangat hitam itu menerawang,menuju masa masanya yang mulai berwarna baru baru ini. Ia pikir mereka tak perlu mengetahui kebenaran dari sebuah kehidupan yang sudah ia lalui selama ini, kehidupan gelap tak berwarna.
“lo kenapa tadi Nad?” suara lembut Aya terdengar di gendang telinga Nadya,mungkin sang pangeran memang tak berniat untuk membangunkan tuan putri yang tertidur,mungkin ia hanya ingin menonton pertunjukan gratis seorang Snow White yang terkapar dalam peti kaca lalu mentertawakannya dan pulang keistana dengan lelucon yang membuat semua rakyatnya tertawa. Mau tak mau Nadya harus menyatakan kebenaran,walaupun ia takut semua pelanginya hilang.
“gue… buta warna!,Monokromasi!”sahut Nadya sambil terus memandang langit,Aya,Firda,dan Dzaki terdiam,tak menyangka bahwa ada seorang gadis yang terlalu lemah untuk di kasihani.
“dunia gue hanya hitam dan putih,bahkan langit itu,yang katanya biru,gue nggak pernah membayangkan bisa tau warna aslinya apa,di mata gue itu Cuma sebatas warna yang setiap hari gue liat,dimanapun gue berada,memang gue adalah angsa yang ada di tengah padang salju di tengah malam, nggak terlihat dan nggak berarti,hidup gue monoton,warna warna itu Cuma bohong,ilusi yang gue nggak pernah percaya…” mereka bertiga masih terdiam.
“gue sadar ketika gue umur 5 tahun,semua temen temen gue bisa menyebutkan semua warna yang di tunjuk sama guru,tapi gue nggak,nggak tahu serta nggak bisa,sampai kapanku gue nggak bakal bisa lihat warna daun,laut,bahkan pakaian gue!”
“jadi itu alasan lo pakai baju yang warnanya…” Firda memandang Nadya yang hanya dib alas dengan senyuman beserta anggukan. Sebuah tangan merangkul bahu rapuh Nadya,pemilik tangan tersenyum lembut.
“lo nggak akan jadi Angsa dalam lautan salju itu,lo bakalan jadi phonix yang mewarnai langit jingga dengan keemasannya,tentunya bersama kita!” Nadya menatap Aya,air matanya jatuh mengalir membasahi pipinya dengan sempurna,tetes kebahagiaan bersama  menuju suatu masa depan berwarna, walaupun di mata Nadya semua tetap hitam dan putih,tapi di hati,tak kan sama.
♪♪♪
Pengumuman pemenang lomba akan segera di tampilkan melalui proyektor GSG(Gedung Serba Guna),Lct Aya,Firda,dan Dzaki berhasil membawa piala bergilir seukuran tubuh Dzaki ke sekolah tercinta, sekarang giliran Nadya yang harus menunggu, hatinya penuh dengan harapan tapi pikirannya penuh dengan keraguan. Tepukan tangan bergema di seluruh penjuru,menandakan hasilnya telah keluar, mata Nadya yang tadinya tertutup perlahan terbuka,memberanikan diri melihat hasil yang tertera.
Harapan itu pudar,senyuman yang tadi sudah siap muncul terurungkan,tak tertulis disana nama “SMAN1 Bandar Sribhawono”,kekecewaan memang hadir tapi semua itu hanya permulaan,mungkin semua ini baru saja di mulai hingga Tuhan baru memberikan pengalaman,esok pasti ada kesempatan untuk memenangkannya.
Wajah Aya,Firda,dan Dzaki sudah khawatir namun kekhawatiran itu pudar karena seutas senyum terpasang manis di wajah Nadya,semua tersenyum lalu memutuskan untuk keluar dari GSG.
“juri-jurinya pasti tidak tau apa arti cerpen,masa cerpen lo nggak masuk ke daftar terbaik sih, padahal gue suka banget sama cerpen lo,dan gaya bahasa yang lo pake”ungkap Dzaki seraya memasukkan tangannya ke saku celana,Nadya menepuk pundak Dzaki keras.
“bukan juri-nya nggak tau arti cerpen tapi nggak bisa baca!”canda Nadya,oh iya,sifat asli Nadya juga sudah mulai menyeruak memasuki dunianya yang senyap hingga berubah menjadi ceria,semua orang tertawa.
“AAHH!!,gue lupa!,tas kecil gue masih di dalam!,kalian ke mobil saja dulu!,nanti aku menyusul!”sahut Aya yang langsung berlari kedalam,sepertinya di dalam tas itu ada sejumlah uang hasil kemenangan mereka tadi.
♪♪♪
Aya tampak berlari terburu buru menuju mobil, candaan yang sedang di ajukan Dzaki terhenti karena malihat wajah Aya yang sudah dipenuhi air mata.
“Lo kenapa?”Tanya Firda sama khawatirnya.
“Nadya lo harus ikut gue!, kalian juga!” Aya menarik tangan Nadya sigap lalu membawanya berlari, Firda dan Dzaki yang tak tahu menahu hanya ikut berlari di belakangnya,mereka kembali berlari memasuki GSG. Aya menunjuk kea rah lcd semua mata mengikuti arah yang di tunjuk oleh Aya. Disana tertulis “SELAMAT KEPADA JUARA 1 NADYA YOSHI DARI SMAN1 BANDAR SRIBHAWONO!”
Mulut Nadya menganga,setitik air mata jatuh dari pelupuknya,semua teman temannya memeluk Nadya senang,masih tak percaya dengan keajaiban ini Nadya bertanya
“tadi tidak ada nama sekolah kita… kenapa sekarang ada?”
“keajaiban yang di buat oleh Tuhan untuk lo Nad,Tuhan mau nunjukin kalo memang lo pantes hidup di dunia ini,karena lo punya arti!jadi semua pertanyaan lo selama ini udah terjawab, lo memang di captain untuk berguna bagi orang lain dan diri sendiri!,tadi operator salah menulis sekolah kita”jelas Aya.
“Senyuman tulus itu hadir lagi,benar benar membawaku ke suatu tempat yang indah dengan berbagai warna yang dulu tak pernah bisa kulihat,bahkan aku bisa merasakan betapa hangatnya semua warna itu,walau duniaku masih tetap hitam dan putih tapi hati dan perasaanku tak akan sama, perasaan selalu berwarna warni,tak bisa dijelaskan memang,tapi aku percaya bahwa dunia itu warna warni tak hanya hitam dan putih seperti apa yang aku lihat”     
  Gadis itu tersenyum setelah mengingat semua perjalanan sulitnya dulu,sekarang mungkin ia sudah bisa di sebut sang phonix yang sudah menjuarai lomba tingkat nasional sampai internasional dengan menulis.
“NADYA!!”panggil seorang gadis bersama dua teman lainnya.
“Gue disini” jawab Nadya mengalihkan pandangan dari lemari kepada ketiga temannya.

END

gimana gimana?? are you bored?? ah i hope its not boring :)
thanks and dont forget your comment ^_^
wassalamualaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar